16 Januari 2009

Cara Mudah Mencerdaskan Anak

"Syifa itu cerdas sekali. Otaknya jalan. Kalau diskusi, seperti orang dewasa." Begitu kata beberapa guru putri kami itu (9 tahun) yang sampai ke telinga istriku.

"Maklum, bapaknya 'kan penulis," timpal 1-2 orang diantara mereka.

Hmmm... Aku jadi bertanya-tanya dalam hati.

1) Benarkah anak kami itu cerdas? Ah, aku tidak terlalu mempedulikannya. Apakah dia tolol ataukah jenius, dia perlu belajar terus!

2) Kenapa, ya, kalau ada anak yang cerdas, orang-orang jadi teringat pada bapaknya? Bukankah peran ibu kepada anak, terutama di masa kanak-kanak, lebih besar?

3) Apakah penulis itu, termasuk diriku, cerdas? Belum tentu. Nyatanya, sejumlah pengunjung blogku menyebutku tolol, bodoh, jahiliyah, dsb.

4) Apakah kemampuan berdiskusi itu pertanda cerdas? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kecerdasan 'kan ada banyak jenisnya. Dalam diskusi, yang menonjol hanyalah kecerdasan logis dan verbal. Bisa saja seseorang memiliki kecerdasan logis dan verbal yang cukup tinggi, tetapi kecerdasan sosial atau lainnya rendah.

Seraya bertanya-tanya dalam hati, aku pun berjawab-jawab. Apakah anak kami menjadi cerdas ataukah tidak, yang penting bahwa kami berusaha mencerdaskan anak. Apa pun hasilnya, kami bertawakkal sajalah.

Menurutku, ada satu cara yang mudah untuk mencerdaskan anak dalam hal kecerdasan logis dan verbalnya. Caranya, sering-sering berdialog dengan anak, tetapi.... (Nah, ada tapinya lo! Jadi, baca sampai tuntas, ya!)

Dalam pengamatanku, ada banyak orangtua yang berdialog dengan anak dengan menempatkan anak dalam posisi yang lebih rendah. Anak dianggap kurang pengalaman, lebih bodoh, nakal, dsb. Dengan posisi begini, orangtua cenderung menggurui anak. Seolah-olah, tugas orangtualah berkata-kata, sedangkan tugas anak adalah mendengar saja. Anak yang membantah omongan orangtua dianggap kurang ajar. Kata-kata sang anak yang bukan bantahan pun seringkali dikritik secara tajam, bahkan kasar, karena sang orangtua menilainya tidak benar, tidak baik, tidak sopan, dsb. Akibatnya, surutlah kemauan anak untuk berkata-kata. Hasilnya, si anak menjadi tidak terbiasa berkata-kata. Akhirnya, dengan keadaan begitu, bagaimana mungkin si anak itu menjadi lihai berkata-kata?

Oleh karena itu, ketika berbincang-bincang dengan anak-anakku, seringkali aku berusaha menempatkan diri dalam posisi yang lebih rendah. Mereka kuanggap lebih pintar, lebih berpengalaman, dan lebih beradab daripada diriku. Dengan begini, aku cenderung belajar dari anak-anakku. Tugas anak-anak adalah membiasakan diri berkata-kata, sedangkan tugas orangtua adalah menjadi "pendengar yang baik". (Untuk menjadi pendengar yang baik, lihat "10 Kiat Menjadi Pendengar Yang Baik".)

Dengan membiasakan anak berkata-kata, maka akan berkembanglah kecerdasan verbalnya. Terus, bagaimana dengan kecerdasan logisnya? Bagaimana cara mudah untuk mengembangkannya?

Caranya, seiring dengan menjadi "menjadi pendengar yang baik", adalah "menjadi penanya yang baik". Dengan menempatkan diri dalam posisi yang lebih rendah daripada anak, mudahlah bagi kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Bila perlu, kita dapat mengajukan pertanyaan "konyol" ala orang blo'on (seperti Welas dalam sinetron Suami-Suami Takut Istri). Tentu saja, tidak semua pertanyaan dapat mencerdaskan anak. Pertanyaan sulit, misalnya, justru akan membuat anak merasa bodoh. Pertanyaan yang mencerdaskan adalah yang merangsang anak untuk mengolah kembali apa yang sudah dia amati, dia dengar, dia pelajari, dan sebagainya, sehingga anak itu mampu mengambil kesimpulan sendiri. (Untuk contoh, silakan perhatikan dialog antara diriku dengan Syifa di postingan "Bila Guru Menanam Kebencian di Benak Murid".)

Dengan membiasakan anak mengambil kesimpulan sendiri, maka berkembanglah kecerdasan logisnya. Iya, nggak?

Jadi, cara mudah untuk mencerdaskan anak (terutama dalam hal kecerdasan logis dan verbal) adalah "menjadi pendengar yang baik" dan "menjadi penanya yang baik".

Wallaahu a'lam.

--> Baca Selengkapnya...

09 Januari 2009

Dari sekolah membawa kebencian?

Siang tadi, sepulang sekolah, sepertinya ada sesuatu yang lain pada diri Syifa, 9 tahun, putri sulung kami. Tak seperti biasanya, dia tak tampak lelah. Dia terlihat bersemangat.

Eit, tunggu dulu. "Bersemangat" itu bukan kata yang tepat untuk menggambarkanya. Kurasa, ada api yang menyala di matanya. Api kemarahankah? Apakah tadi ada temannya yang membuatnya gusar?

Walau penasaran, tak usahlah buru-buru aku menanyainya. Biarlah dia melenturkan otot, melepas penat lebih dulu. Nanti sajalah aku bertanya-tanya. Tapi semenit berikutnya, dia sudah lebih dulu menyampaikan aspirasinya kepadaku.

"Ayah jangan beli Aqua lagi!" serunya tanpa basa-basi.

"Kenapa?"

"Itu 'kan buatan Amerika!"

"Emangnya kenapa kalo buatan Amerika?"

"Sama saja dengan menyumbang peluru," jawabnya. "Ayah juga jangan beli lagi ...." tambahnya seraya menyebut beberapa produk yang katanya buatan Amerika. Kali ini dengan nada yang lebih sengit. Bukan hanya api kemarahan yang sedang membakar jiwanya, melainkan juga api kebencian!

Astaghfirullaah... Ada apa dengan putri kami ini?

Rupanya, tadi pagi selama dua jam, guru-gurunya mengajak para murid untuk melakukan demo "damai" di depan sekolah, di pinggir jalan raya, dalam rangka memprotes serangan Israel ke Gaza, Palestina.

"Apa yang kau lakukan dalam demo damai tadi?" tanyaku.

"Bawa spanduk dan teriak-teriak."

"Kamu senang?"

"Ya, senang."

"Kata-kata apa yang tertulis di spandukmu? Kata-kata apa yang kau teriakkan dalam demo damai tadi?"

"Wah, sudah lupa. Tadi di mobil [saat perjalanan pulang] masih ingat. Sekarang sudah lupa."

"Trus, yang kau ingat apa?"

"Tadi ada yang seru, Yah!"

"Apa yang seru?"

"Pak Guru menendang-nendang bendera Amerika dan Israel, lalu membakarnya," paparnya seraya menampakkan mimik wajah yang menyiratkan kepuasan membalas dendam.

Aku agak ketar-ketir menyaksikan gelagat ini. Apalagi dia pun menambahkan beberapa keterangan, yang dia tangkap dari berita di televisi (yang dia tahu jarang kutonton), yang menyiratkan kebenciannya kepada Amerika.

Lantas, aku pun bertanya, "Kamu tahu, nggak, arti kata demo?"

"Nggak tahu."

"Arti kata damai?"

"Nggak tahu. Aku belum tanya Bu Guru."

"Lalu apa saja yang dikatakan oleh Bu Guru dan Pak Guru?"

Lalu dia ungkapkan kata-kata gurunya yang dia ingat. Diantaranya, "Yang jahat itu pemerintah Amerika. Rakyatnya baik-baik."

Setelah Syifa mengungkapkan kembali kata-kata gurunya tersebut, barulah api kemarahan dan kebencian yang membakar jiwanya kulihat meredup.

KESIMPULAN

Bagi anak-anak, pesan non-verbal (seperti pembakaran bendera) jauh lebih berpengaruh daripada pesan verbal.

SARAN

1) Para pendidik hendaknya lebih menaruh perhatian pada komunikasi nonverbal.
2) Anak-anak mestinya diajari cara-cara demonstrasi yang beradab saja, yang penuh kedamaian, bukan yang disertai cara-cara yang kasar seperti pembakaran bendera.
3) Para pendidik hendaknya tidak menanamkan bibit-bibit kebencian. Kalau pun terpaksa menanamkan kebencian, mestinya terarah pada sikap atau perilaku yang keji, bukan pada pelakunya.

--> Baca Selengkapnya...

18 November 2008

Feed "Jiwa Cantik" dan "Orangtua Penyayang" Pindah!

Untuk lebih memudahkan pengelolaan, dua feed blog ini pindah. Dengan pemindahan ini, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda dalam menyesuaikan diri.

Feed blog Jiwa Cantik:

Alamat Lama: http://feeds.feedburner.com/ManajemenAmal

Alamat Baru: http://feeds.feedburner.com/JiwaCantik

Feed blog Orangtua Penyayang:

Alamat lama: http://feeds.feedburner.com/JiwaCantik

Alamat baru: http://feeds.feedburner.com/OrangtuaPenyayang


--> Baca Selengkapnya...

Home | About Me | Contact

Copyright © 2008 - M Shodiq Mustika

Theme Image credit: adapted from a nas-city's photo

  © Blogger template 'Neuronic' by Ourblogtemplates.com - Redesign by M Shodiq Mustika 2008

Kembali ke ATAS