09 Januari 2009

Dari sekolah membawa kebencian?

Siang tadi, sepulang sekolah, sepertinya ada sesuatu yang lain pada diri Syifa, 9 tahun, putri sulung kami. Tak seperti biasanya, dia tak tampak lelah. Dia terlihat bersemangat.

Eit, tunggu dulu. "Bersemangat" itu bukan kata yang tepat untuk menggambarkanya. Kurasa, ada api yang menyala di matanya. Api kemarahankah? Apakah tadi ada temannya yang membuatnya gusar?

Walau penasaran, tak usahlah buru-buru aku menanyainya. Biarlah dia melenturkan otot, melepas penat lebih dulu. Nanti sajalah aku bertanya-tanya. Tapi semenit berikutnya, dia sudah lebih dulu menyampaikan aspirasinya kepadaku.

"Ayah jangan beli Aqua lagi!" serunya tanpa basa-basi.

"Kenapa?"

"Itu 'kan buatan Amerika!"

"Emangnya kenapa kalo buatan Amerika?"

"Sama saja dengan menyumbang peluru," jawabnya. "Ayah juga jangan beli lagi ...." tambahnya seraya menyebut beberapa produk yang katanya buatan Amerika. Kali ini dengan nada yang lebih sengit. Bukan hanya api kemarahan yang sedang membakar jiwanya, melainkan juga api kebencian!

Astaghfirullaah... Ada apa dengan putri kami ini?

Rupanya, tadi pagi selama dua jam, guru-gurunya mengajak para murid untuk melakukan demo "damai" di depan sekolah, di pinggir jalan raya, dalam rangka memprotes serangan Israel ke Gaza, Palestina.

"Apa yang kau lakukan dalam demo damai tadi?" tanyaku.

"Bawa spanduk dan teriak-teriak."

"Kamu senang?"

"Ya, senang."

"Kata-kata apa yang tertulis di spandukmu? Kata-kata apa yang kau teriakkan dalam demo damai tadi?"

"Wah, sudah lupa. Tadi di mobil [saat perjalanan pulang] masih ingat. Sekarang sudah lupa."

"Trus, yang kau ingat apa?"

"Tadi ada yang seru, Yah!"

"Apa yang seru?"

"Pak Guru menendang-nendang bendera Amerika dan Israel, lalu membakarnya," paparnya seraya menampakkan mimik wajah yang menyiratkan kepuasan membalas dendam.

Aku agak ketar-ketir menyaksikan gelagat ini. Apalagi dia pun menambahkan beberapa keterangan, yang dia tangkap dari berita di televisi (yang dia tahu jarang kutonton), yang menyiratkan kebenciannya kepada Amerika.

Lantas, aku pun bertanya, "Kamu tahu, nggak, arti kata demo?"

"Nggak tahu."

"Arti kata damai?"

"Nggak tahu. Aku belum tanya Bu Guru."

"Lalu apa saja yang dikatakan oleh Bu Guru dan Pak Guru?"

Lalu dia ungkapkan kata-kata gurunya yang dia ingat. Diantaranya, "Yang jahat itu pemerintah Amerika. Rakyatnya baik-baik."

Setelah Syifa mengungkapkan kembali kata-kata gurunya tersebut, barulah api kemarahan dan kebencian yang membakar jiwanya kulihat meredup.

KESIMPULAN

Bagi anak-anak, pesan non-verbal (seperti pembakaran bendera) jauh lebih berpengaruh daripada pesan verbal.

SARAN

1) Para pendidik hendaknya lebih menaruh perhatian pada komunikasi nonverbal.
2) Anak-anak mestinya diajari cara-cara demonstrasi yang beradab saja, yang penuh kedamaian, bukan yang disertai cara-cara yang kasar seperti pembakaran bendera.
3) Para pendidik hendaknya tidak menanamkan bibit-bibit kebencian. Kalau pun terpaksa menanamkan kebencian, mestinya terarah pada sikap atau perilaku yang keji, bukan pada pelakunya.

Posting Komentar

Home | About Me | Contact

Copyright © 2008 - M Shodiq Mustika

Theme Image credit: adapted from a nas-city's photo

  © Blogger template 'Neuronic' by Ourblogtemplates.com - Redesign by M Shodiq Mustika 2008

Kembali ke ATAS